CIREBON, fokusdialog.com
Forum
Komunikasi Disabilitas Cirebon FKDC menggelar pelatihan penulisan produk
dokumentasi di Hotel Santika Cirebon, Selasa 12 Mei 2025. Kegiatan ini
bertujuan meningkatkan kapasitas pengurus, anggota, dan pendamping FKDC dalam
menghasilkan dokumentasi yang akurat, sistematis, dan ramah difabel.
Pelatihan
menghadirkan fasilitator dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten
Cirebon serta Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel SIGAB Indonesia. Para
peserta dibekali teknik menulis dokumentasi dengan bahasa inklusif yang
menghargai martabat penyandang disabilitas dan mudah dipahami masyarakat luas.
Melalui
pelatihan ini, FKDC ingin membangun budaya dokumentasi yang lebih terstruktur
sebagai bagian dari tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel.
Produk dokumentasi yang dihasilkan tidak hanya untuk laporan internal, tetapi
juga menjadi materi publikasi media serta arsip organisasi guna memperkuat advokasi
dan kepercayaan publik.
Dokumentasi
Jadi Bukti Perubahan Sosial di Desa
Perwakilan
SIGAB Indonesia, Robandi, menilai banyak praktik baik yang telah dilakukan
komunitas disabilitas di tingkat desa namun belum banyak diketahui publik.
Menurutnya, hal-hal tersebut perlu dipublikasikan lebih luas agar masyarakat
melihat kontribusi nyata penyandang disabilitas.
“Saya
yakin banyak hal-hal baik, banyak usaha-usaha baik yang sudah dilakukan
teman-teman di desa yang harus dipublikasikan, harus ditunjukkan ke orang-orang
bahwa kita sudah melakukan banyak hal baik di desa,” jelasnya.
Robandi
juga menyoroti pentingnya media digital sebagai sarana memperkenalkan gerakan
inklusi. Ia menekankan bahwa dokumentasi yang baik bisa menjadi bukti kuat
perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.
“Agar
praktik baik yang sudah ada itu jadi semakin kuat, kemudian punya landasan yang
kuat, bahwa perubahan yang terjadi di desa itu ternyata seperti ini. Nah, itu
suatu hal yang patut diapresiasi,” pungkasnya.
Ubah
Narasi Disabilitas dari Kasihan ke Kontribusi
Perwakilan
FKDC, Oni Jahoni, mengakui selama ini berbagai kegiatan dan capaian organisasi
belum terdokumentasikan secara optimal. Banyak output dan praktik baik yang
dihasilkan, namun sering terlewat karena keterbatasan pemahaman dalam
mendokumentasikan.
“FKDC
itu sangat menyadari bahwa teman-teman banyak sekali kegiatan. Nah, di antara
kegiatan-kegiatan itu, pasti banyak output atau praktik-praktik baik yang sudah
dicapai. Namun, karena keterbatasan pemahaman, kami sering kali terlupakan
untuk mendokumentasikan, baik secara narasi, foto, maupun video,” ujar Oni.
Ia
menegaskan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap disabilitas
melalui dokumentasi yang lebih bermartabat. Narasi yang dibangun harus
menonjolkan kemampuan, kontribusi, dan hasil karya penyandang disabilitas,
bukan rasa kasihan ataupun keterbatasan fisik.
Melalui pelatihan ini, FKDC berharap para peserta mampu menghasilkan produk dokumentasi yang lebih profesional dan inklusif. Dengan begitu, praktik-praktik baik dalam pemberdayaan penyandang disabilitas di Kabupaten Cirebon dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat dan menjadi inspirasi bagi daerah lain. (Muh/M.Toip)



