KUNINGAN,FOKUSDIALOG.COM.
Di tengah berbagai tantangan yang dapat menguji
persatuan bangsa, Pancasila kembali diingatkan sebagai pengikat yang menjaga
Indonesia tetap berdiri dalam satu kesatuan.
Pesan kuat itu mengemuka dalam Upacara Peringatan
Hari Kesaktian Pancasila Tingkat Kabupaten Kuningan Tahun 2026 yang dipimpin
langsung Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., pada Kamis
(1/10/2026).
Upacara berlangsung khidmat di halaman Setda. Hadir
lengkap Wakil Bupati Kuningan, Sekretaris Daerah, unsur Forum Koordinasi
Pimpinan Daerah (Forkopimda), para kepala SKPD, camat, pejabat di lingkungan
Sekretariat Daerah, Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan beserta jajaran, Ketua
Dharma Wanita Persatuan, serta para pimpinan BUMD.
Tahun ini, peringatan mengusung tema nasional
“Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”.
Bupati Dian bertindak sebagai Inspektur Upacara. Salah satu momen paling penting adalah pembacaan Ikrar Kesaktian Pancasila atas nama Ketua DPR RI Puan Maharani.
Ikrar tersebut menegaskan tekad bulat bangsa
Indonesia untuk mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai
sumber kekuatan dalam membangun kebersamaan, memperjuangkan kebenaran dan
keadilan, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Peringatan ini juga menjadi momentum untuk mengenang
pengorbanan para Pahlawan Revolusi dalam peristiwa G30S/PKI 30 September 1965.
Bagi Bupati Dian, Hari Kesaktian Pancasila tidak
boleh berhenti sebagai seremoni tahunan.
“Peringatan Kesaktian Pancasila bagi kita tidak
hanya sekadar upacara seremonial semata. Terkandung di dalamnya apa memberikan
warning, memberikan semangat juga kepada kita bahwa Pancasila adalah pengikat,”
ujar Bupati Dian usai upacara.
Menurutnya, Pancasila adalah pengikat secara
batiniah dan lahiriah yang memastikan NKRI tetap bersatu di tengah keberagaman.
“Sebagai pengikat secara batiniah, secara lahiriah,
bagaimana terus Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap bersatu,” katanya.
Bupati Dian mengingatkan, menjaga Pancasila dan NKRI
adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Ia menilai tantangan
terhadap persatuan saat ini hadir dalam berbagai bentuk, baik yang terlihat
maupun tidak terlihat.
“Saya melihat rongrongan terhadap NKRI, rongrongan
terhadap Pancasila, baik secara kasat mata maupun tidak kasat mata, ini sangat
terasa,” ungkapnya.
Karena itu, momentum 1 Oktober menjadi sangat
esensial untuk kembali menyadarkan masyarakat tentang posisi Pancasila.
“Momentum Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan
kembali bahwa Pancasila betul-betul adalah sesuatu yang esensial bagi kehidupan
kita untuk berbangsa dan bernegara,” tutur Bupati.
Bupati menegaskan, penghormatan kepada Pancasila dan
para pahlawan tidak cukup hanya melalui upacara. Nilai-nilainya harus
dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.Yakni melalui sikap saling menghargai
perbedaan, menjaga persaudaraan, memperkuat gotong royong, serta menempatkan
kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Pancasila bukan sekadar untuk dihafalkan, tetapi
untuk dijaga, dihayati, dan diamalkan agar persatuan Indonesia tetap kokoh
selamanya. (Kom/Angga P)









