Kabar Daerah

Berita Terkini

PT. Bakti Artha Mulya Siap Lapor Balik Atas Laporan Kepala Desa Datar Dugaan Pemalsuan Data

Budi selaku Direktur PT Bhakti Artha Mulya Kuningan, fokusdialog.com   - PT Bhakti Artha Mulya memberikan tanggapan atas laporan dugaan pema...

Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label Kabar Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Daerah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Agustus 2026

PT. Bakti Artha Mulya Siap Lapor Balik Atas Laporan Kepala Desa Datar Dugaan Pemalsuan Data

Budi selaku Direktur PT Bhakti Artha Mulya

Kuningan, fokusdialog.com  - PT Bhakti Artha Mulya memberikan tanggapan atas laporan dugaan pemalsuan dokumen yang dilayangkan Kepala Desa Datar, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Kuningan, ke Polres Kuningan. Pihak perusahaan menegaskan bahwa seluruh proses pembelian tanah dilakukan sesuai ketentuan hukum dan berdasarkan dokumen yang diterima secara sah dari pihak penjual.


Budi selaku penanggung jawab Direktur PT Bhakti Artha Mulya menyatakan, perusahaan tidak dapat disalahkan  Menurutnya, PT Bhakti Artha Mulya bertindak sebagai pembeli yang telah memenuhi seluruh prosedur dan persyaratan yang berlaku dalam transaksi pembelian tanah.


"Kalau pihak perusahaan sebagai pembeli tidak bisa disalahkan karena kami membeli dengan legalitas yang jelas dan sesuai aturan dari pihak penjual. Kami membeli sesuai aturan yang ada," ujar Budi, Rabu  (5/8/2026).


Ia menjelaskan, proses pembebasan tanah dilakukan berdasarkan dokumen-dokumen yang lengkap dan diterima dari pihak penjual sesuai ketentuan yang berlaku. Seluruh administrasi yang dipersyaratkan telah dipenuhi sebelum dilakukan proses pengurusan hak atas tanah.


Budi juga menegaskan bahwa penerbitan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) tidak mungkin dapat diproses apabila ditemukan adanya kejanggalan dalam dokumen maupun administrasi yang diajukan. Pasalnya, penerbitan SHGB memerlukan verifikasi data yang benar serta keabsahan dokumen yang diakui oleh instansi pemerintah, khususnya Badan Pertanahan Nasional (BPN).


"Penerbitan SHGB tentu melalui proses dan verifikasi yang ketat. Tidak mungkin diproses apabila terdapat kejanggalan dalam dokumen. Semua data yang diajukan harus benar dan memiliki keabsahan yang diakui oleh pemerintah, terutama BPN," katanya.


Terkait pelaporan yang telah diajukan ke Polres Kuningan, PT Bhakti Artha Mulya menyatakan menghormati langkah hukum yang ditempuh oleh pelapor. Perusahaan juga siap mengikuti seluruh proses hukum yang berjalan dan menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk mengungkap fakta yang sebenarnya.


"Kami menghargai adanya pelaporan tersebut. Biarkan fakta dan proses hukum yang akan menjawab apakah ada kesalahan atau tidak. Kami siap mengikuti seluruh proses yang berlaku," tegasnya.


PT Bhakti Artha Mulya menegaskan komitmennya untuk bersikap kooperatif dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan demi terciptanya kepastian hukum bagi seluruh pihak yang terlibat.


"Dalam penerbitan SPPT kami punya dokumennya yang di TTD oleh kepala desa. Kami juga akan lapor balik atas tuduhan pemalsuan data karna kami merasa di cemarkan nama baik perusahan kami," pungkasnya.

Penulis:  Asep S

Editor: Adi M

Jumat, 17 Juli 2026

Bupati Dian Gelorakan BERSEPEDA di Garawangi: Bersih, Sehat, Peduli, Damai


Kuningan,
fokusdialog.com - Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si bersama Wakil Bupati Tuti Andriani, S.H., M.Kn dan Sekretaris Daerah U. Kusmana, S.Sos., M.Si mengikuti Gerakan Jumat BERSEPEDA di Desa Garawangi, Kecamatan Garawangi, Jumat (17/7/2026).

Kegiatan yang diikuti jajaran perangkat daerah, camat, pemerintah desa, hingga masyarakat itu menjadi momentum menguatkan budaya hidup bersih, sehat, peduli, dan damai.

Dalam sambutannya, Bupati Dian menegaskan BERSEPEDA bukan sekadar bersepeda.

"Yang ingin kita gelorakan hari ini adalah kebersihan, hidup sehat, serta kepedulian untuk saling berbagi kepada sesama. Jangan menyerahkan semuanya kepada pemerintah. Kepedulian adalah tanggung jawab kita bersama," ujarnya.

Ia mengapresiasi kondisi Desa Garawangi yang sudah cukup tertata. Namun ia tetap mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten, termasuk membiasakan pengelolaan sampah dan kerapian sekitar rumah.Bupati juga mendorong masyarakat menjadikan olahraga sebagai gaya hidup.

"Jangan hanya sibuk bekerja. Luangkan waktu untuk berolahraga. Tubuh yang sehat akan membuat kita lebih semangat, lebih produktif, dan mampu memberikan pelayanan maupun aktivitas terbaik," katanya.

Dalam kesempatan itu, Dian menekankan pentingnya kepedulian sosial. Ia meminta seluruh jajaran pemerintah dari kecamatan hingga desa lebih peka terhadap warga yang membutuhkan.

 "Saya tidak ingin ada warga lanjut usia terlantar, rumah yang roboh, anak putus sekolah, atau masyarakat yang tidak mampu berobat tanpa perhatian. Kita harus saling membantu dan bergotong royong agar tidak ada warga yang tertinggal dari hasil pembangunan," tegasnya.

Sebagai bentuk nyata kepedulian, kegiatan diisi penyerahan bantuan sosial kepada warga yang membutuhkan.

Bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama Badan Amil Zakat Nasional Baznas Kabupaten Kuningan dan berbagai pihak.

Kuwu Garawangi, Hasmidi, menyampaikan apresiasi atas ditunjuknya desanya sebagai lokasi Gerakan Jumat BERSEPEDA.

Menurutnya, program ini sejalan dengan kegiatan rutin Jumat Bersih yang sudah dilaksanakan di Kecamatan Garawangi.

Ia berharap kehadiran Bupati beserta jajaran semakin mempererat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus memotivasi desa untuk terus mendukung program pembangunan daerah. (Angga p/Asep S)

Jadi Pilihan Favorit, MTS Al-Ikhlas Baribis Terus Pacu Prestasi Akademik dan Non-Akademik


MAJALENGKA, fokusdialog.com
– Lokasi strategis di antara Jalan Raya Desa Baribis dan Desa Batujaya membuat MTS Al-Ikhlas Baribis jadi alternatif utama lulusan SD untuk melanjutkan ke jenjang SMP. Animo masyarakat tinggi seiring kemajuan sarana-prasarana dan deretan prestasi yang terus diraih madrasah ini sejak berdiri 1995 silam.


MTS Al-Ikhlas Baribis mencatat kemajuan pesat di berbagai sektor. Sarana-prasarana pembelajaran terus dikembangkan untuk memaksimalkan layanan pendidikan. Di sisi prestasi, madrasah ini rutin menyabet trofi di ajang POSMAD tingkat kabupaten, mulai dari Bola Voli Juara 2, Kaligrafi Juara 2, Futsal, hingga mewakili Jawa Barat di Olimpiade IPS Nasional 2024.


Madrasah dipimpin Budiana Setiawan, S.Pd sebagai Kepala Madrasah. Ia mulai bertugas sebagai tenaga didik sejak Desember 2006, lalu dipercaya memimpin sekaligus mengelola sejak 2011 hingga sekarang. Saat ini KBM diikuti 388 siswa dengan bimbingan 28 guru dan tenaga kependidikan TU.

MTS Al-Ikhlas Baribis berlokasi strategis di antara Jalan Raya Desa Baribis dan Desa Batujaya, Kabupaten Majalengka. Posisi ini memudahkan akses siswa dari desa sekitar. Keterangan disampaikan langsung Kepala Madrasah Budiana Setiawan saat ditemui awak media, Kamis 16 Juli 2026 siang.

Menurut Budiana Setiawan, kemajuan bertahap sejak berdiri 1995 membuat animo warga sangat tinggi untuk menyekolahkan putra-putrinya di sini. 

“Sesuai yang tertuang di dalam visi-misi bahwa MTS Al-Ikhlas Baribis mewujudkan generasi Islam yang berakhlak mulia, disiplin, cerdas, terampil dan berprestasi serta berwawasan lingkungan,” ujarnya.

Selain fokus akademik, madrasah menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga dalam gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah.

Pihak madrasah konsisten mengupayakan peningkatan sarpras pendukung pembelajaran di segala sektor demi layanan pendidikan maksimal.


MTS Al-Ikhlas selalu ikut POSMAD dan pulang bawa trofi. Terbaru, Bola Voli Juara 2, Kaligrafi Juara 2, serta prestasi Futsal di tingkat kabupaten. Sementara di level nasional, madrasah ini mewakili Jawa Barat di Olimpiade IPS 2024.

“Kami terus berupaya mengoptimalkan peraihan prestasi di bidang akademik maupun non akademik dan menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga madrasah dalam gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah,” tambah Setiawan.

Dengan 388 siswa dan 28 tenaga pendidik, MTS Al-Ikhlas Baribis membuktikan diri sebagai madrasah yang tak hanya unggul lokasi, tapi juga konsisten mencetak generasi berakhlak, berprestasi, dan peduli lingkungan. (Ujang Ar/ W. Arbi)

Bupati Majalengka Tegaskan Komitmen Perkuat Sinergi dengan BAZNAS RI, Lahirkan Program Nyata untuk Umat


JAKARTA, fokusdialog.com
– Pemerintah Kabupaten Majalengka menegaskan komitmennya memperkuat sinergi bersama Badan Amil Zakat Nasional BAZNAS sebagai mitra strategis pembangunan daerah. Komitmen itu disampaikan langsung Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M. saat beraudiensi dengan Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. di Gedung BAZNAS RI, Jalan Matraman Raya No.134, Jakarta Timur, Kamis 16 Juli 2026.

Pertemuan dihadiri Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M., Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., Ketua BAZNAS Kabupaten Majalengka H. Agus Asri Sabana, S.Ag., M.Si., C.Me., CPArb., beserta jajaran Pemkab dan pengurus BAZNAS Majalengka.

Bupati Majalengka memaparkan capaian dan komitmen Pemkab dalam pengelolaan zakat, infak, sedekah ZIS, dan dana sosial keagamaan lainnya DSKL. Ia menegaskan Pemkab akan terus memberi dukungan penuh terhadap program sosial, kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, dan kegiatan keagamaan BAZNAS.

Menurut Bupati Eman, BAZNAS adalah mitra strategis mewujudkan kesejahteraan masyarakat lewat optimalisasi ZIS-DSKL. Sinergi ini sudah diwujudkan lewat kebijakan dan program nyata, bukan sekadar komitmen.

“Pemerintah Kabupaten Majalengka akan terus bersinergi dengan BAZNAS dan memberikan dukungan penuh terhadap seluruh program sosial, kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, serta kegiatan keagamaan yang dijalankan BAZNAS,” tegas Bupati.6. How - Bagaimana Wujud Nyatanya?  Payung Hukum Kuat: Pemkab Majalengka menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 92 Tahun 2025 tentang Pembinaan dan Pengawasan Pengelolaan ZIS serta DSKL. Regulasi ini memperkuat tata kelola zakat yang profesional, transparan, dan akuntabel. Koordinasi Pemkab, BAZNAS, UPZ, dan pemangku kepentingan jadi lebih terarah.

BAZNAS Majalengka bersama Pemkab menyalurkan bantuan Rp1.372.000.000 kepada 1.372 pejuang keagamaan se-Kabupaten Majalengka. Masing-masing Guru Ngaji, Imam Masjid, Marbot, dan Petugas Pemulasaraan Jenazah di 343 desa/kelurahan menerima Rp1.000.000 sebagai bentuk penghargaan atas peran mereka membina kehidupan religius warga.

Pada 25 Juni 2026, kolaborasi Pemkab, BAZNAS Majalengka, dan mitra swasta menyantuni 424 anak yatim. Setiap anak mendapat santunan dan voucher belanja Rp500.000. BAZNAS Majalengka bahkan meluncurkan lagu dan video klip “Lebaran Anak Yatim” sebagai media edukasi dan kampanye kepedulian sosial.

Bupati berharap BAZNAS RI terus mendukung program strategis BAZNAS Majalengka. Sinergi ini diyakini akan mempercepat pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan, penguatan ekonomi umat, pembangunan rumah layak huni, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan desa.

“Kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat sehingga semakin banyak program BAZNAS RI yang dapat hadir di Kabupaten Majalengka untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera, berdaya saing, religius, dan Majalengka Langkung Sae,” tutup Bupati.

Ketua BAZNAS RI Dr. Sodik Mudjahid mengapresiasi keseriusan Pemkab Majalengka. Ia menilai lahirnya regulasi daerah dan program kolaboratif adalah langkah maju yang layak jadi inspirasi daerah lain di Indonesia.

“Dengan sinergi Pemkab-BAZNAS, Majalengka optimistis jadi daerah percontohan nasional dalam pengelolaan zakat yang berdampak nyata,” pungkasnya. (Kom/Uj.Ar)

Editor: Adi M

Kemenpora Cetak 120 Penggerak Olahraga Disabilitas Lewat ToT "Berdaya" di Majalengka


MAJALENGKA, fokusdialog.com
– Kementerian Pemuda dan Olahraga RI makin serius membangun olahraga inklusif. Buktinya, Training of Trainers ToT Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk "Berdaya" resmi digelar di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Kamis, 16 Juli 2026.

Majalengka dipilih sebagai salah satu daerah percontohan pembudayaan olahraga disabilitas hingga ke desa. Program ini bukan sekadar pelatihan sertifikasi, tapi strategi besar mencetak motor penggerak olahraga disabilitas langsung dari akar rumput.

Kemenpora RI menggelar ToT Penggerak Olahraga Disabilitas "Berdaya" selama dua hari di Majalengka. Sebanyak 120 peserta lokal digembleng menjadi pelatih, pendamping, sekaligus agen pembudayaan olahraga bagi penyandang disabilitas. Mereka dibekali materi olahraga adaptif, klasifikasi disabilitas, metode pelatihan adaptif, hingga teknik identifikasi bakat sejak dini.

Kegiatan dibuka Plt. Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Kemenpora, Ahmad Arsani, di Hotel Fitra Majalengka, Kamis 16 Juli 2026. Pelatihan menghadirkan pakar olahraga adaptif dari kalangan akademisi dan praktisi. Peserta berasal dari 120 penggerak olahraga disabilitas se-Kabupaten Majalengka yang punya komitmen mengawal olahraga inklusif di daerahnya.

Program "Berdaya" sendiri dirancang empat fase. Fase I pembentukan master trainer sudah rampung April 2026, melibatkan 30 atlet elite internasional. Fase II berupa pelatihan intensif pelatih lokal, seperti yang kini digelar di Majalengka. Selanjutnya Fase III aktualisasi ke komunitas dan Fase IV monitoring-evaluasi.

Data Kemenpora menyebut dari 22,9 juta jiwa penyandang disabilitas di Indonesia, baru 11,6% yang aktif berolahraga. Jumlah pelatih pun sangat terbatas, baru 92 orang berlatar belakang National Paralympic Committee Indonesia NPCI.

"Untuk mendongkrak partisipasi berolahraga serta mencetak lebih banyak atlet disabilitas berprestasi, kita membutuhkan peningkatan jumlah pelatih, pendamping, dan penggerak olahraga disabilitas yang kompeten. Itulah yang melatarbelakangi dicetuskannya program ToT 'Berdaya' ini," tegas Arsani.

Empat Fase Terstruktur:

 Fase I - Master Trainer: April 2026, 30 atlet elite internasional dilatih jadi instruktur nasional. 

Fase II - Pelatihan Intensif: Melatih 120 penggerak lokal di daerah seperti Majalengka. 

Fase III - Aktualisasi: Peserta langsung mengimplementasikan ilmu ke komunitas disabilitas. 

Fase IV - Monev: Pengawasan, evaluasi dampak, hingga penyusunan laporan capaian.

Materi yang Diberikan: 

Olahraga Adaptif & Para Sport: Konsep dasar, cabang paralimpik, sistem pembinaan. 

Klasifikasi Olahraga Disabilitas: Memahami karakteristik olahraga sesuai jenis hambatan. 

Metode Pelatihan Adaptif: Menyusun program latihan yang ramah dan aman bagi atlet disabilitas.  Identifikasi Bakat: Teknik menemukan potensi atlet sejak dini di kelompok disabilitas.

"Melalui program ini, Kemenpora berharap dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi pemenuhan hak berolahraga yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat," tutup Arsani.

Dengan ToT "Berdaya", Kemenpora menargetkan lahirnya ribuan pelatih kompeten di seluruh daerah. Dimulai dari Majalengka, gerakan olahraga inklusif diharapkan meluas ke seluruh Indonesia dan menjadi jalan lahirnya atlet paralimpik masa depan yang mengharumkan nama bangsa. (Kom/Uj.Ar) 

Editor: Adi M

Tangkal Hoaks & Sentimen Negatif, Diskominfo Majalengka Gelar Bimtek 250 Admin Medsos OPD


MAJALENGKA,
fokusdialog.com – Ruang digital Pemkab Majalengka disiapkan makin kondusif. Dinas Komunikasi dan Informatika Diskominfo Kabupaten Majalengka menggelar Bimbingan Teknis Bimtek bagi 250 admin media sosial perangkat daerah. Mengusung tema “Mitigasi Sentimen Negatif Terhadap Pemerintah”, kegiatan ini dibuka Kepala Diskominfo Majalengka, Irwan, bertempat di Gedung Nyi Rambut Kasih, Rabu 15 Juli 2026 pekan lalu.

Kegiatan dihadiri Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik IKP Diskominfo, Hj. Kusmiati. Narasumber dihadirkan dari Diskominfo Provinsi Jawa Barat, Tommy Sutami. Peserta bimtek sebanyak 250 orang, terdiri dari admin medsos perangkat daerah, kecamatan, UPTD, hingga UPT Puskesmas se-Kabupaten Majalengka.

Tujuan kegiatan untuk memperkuat tata kelola komunikasi publik, meredam hoaks, keluhan, dan sentimen negatif di ruang digital. Sekaligus mendukung visi "Majalengka Langkung Sae" lewat optimalisasi medsos yang sehat dan konstruktif.

Kepala Diskominfo Irwan menegaskan medsos adalah jembatan informasi efektif antara pemerintah dan masyarakat. Namun ruang digital tak selalu ramah.

"Ruang publik digital tidak selalu ramah. Kritik, keluhan, bahkan disinformasi, hoaks, dan sentimen negatif adalah tantangan nyata yang kita hadapi setiap hari. Oleh karena itu, tema mitigasi sentimen negatif ini menjadi sangat krusial," ujar Irwan.

Ia menekankan mitigasi bukan anti-kritik atau membungkam warga. Tapi soal cara cerdas, cepat, dan terukur meredam kegaduhan, meluruskan salah paham, dan mengubah sentimen negatif jadi dialog konstruktif.

Irwan memberi tiga instruksi penting bagi admin medsos: Pertama, Responsif & Edukatif: Cepat merespons isu miring dengan data valid, bahasa santun, dan edukatif agar isu tak membesar. 

Kedua, Kolaboratif: Tidak jalan sendiri. Untuk isu lintas sektor, admin wajib koordinasi dengan Diskominfo atau OPD terkait agar narasi satu pintu dan sinkron. 

Ketiga, Proaktif Bangun Narasi Positif: Jika ada komentar negatif, balas dengan satatus positif.

“Satu komentar negatif di masyarakat, apa salahnya balas dengan status positif, insyaallah sentimen negatif yang sedikit itu bisa tenggelam,” kata Irwan.

Narasumber Diskominfo Jabar, Tommy Sutami, membekali peserta dengan Sistem D.A.M.P.I.N.G: Deteksi, Analisis Risiko, Mediasi Risiko, Pendampingan, Intervensi Krisis, dan Negoisasi Batas. Admin dituntut mengubah informasi birokrasi jadi konten kreatif yang mudah dipahami.

"Admin dituntut mampu mengubah informasi birokrasi menjadi konten yang kreatif dan mudah dipahami masyarakat," jelas Tommy.

Bimtek dikemas interaktif agar admin bisa tukar pikiran dan memperkuat jejaring.

Elsa, admin medsos dari kecamatan, mengaku materi sangat relevan.

"Selama ini kami sering bingung bagaimana cara merespons keluhan warga di kolom komentar agar tidak memicu perdebatan yang lebih panjang. Melalui bimtek ini, kami diajarkan cara merespons secara taktis, santun, dan berbasis data. Strategi 'keroyokan' narasi positif yang disampaikan Pak Kadis juga sangat menginspirasi agar kami bisa saling mendukung antar-instansi di ruang digital," ujarnya.

Dengan 250 admin yang makin cakap digital, Pemkab Majalengka berharap ruang medsos pemerintah jadi lebih informatif, solutif, dan mampu menangkal hoaks. Dari mitigasi sentimen negatif, lahir dialog yang sehat untuk "Majalengka Langkung Sae". (Kom/Uj.Ar)

Editor: Adi M

Menu MBG Diseragamkan, Bupati Majalengka Ingatkan Mitra Jangan Hanya Cari Untung


MAJALENGKA, fokusdialog.com
Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M. menegaskan pentingnya tanggung jawab moral pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG dalam program Makanan Bergizi Gratis MBG.

Bupati Majalengka mengusulkan penyeragaman menu Makanan Bergizi Gratis MBG di seluruh sekolah. Tujuannya agar pengawasan lebih mudah, kualitas makanan terjaga, dan memicu kompetisi sehat antarpengelola SPPG. Ia juga memberi peringatan keras agar mitra pemerintah tidak berorientasi pada keuntungan semata.

Pernyataan disampaikan Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M, saat meresmikan Bantuan Presiden Banpres Sekolah serta pemantauan langsung dan evaluasi program MBG pasca-libur sekolah selama tiga minggu di SMPN 1 Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, Senin, 13 Juli 2026.

Kebijakan penyeragaman menu direncanakan berlaku untuk seluruh sekolah penerima MBG di Majalengka.

Bupati menyebut respons anak sekolah terhadap MBG sangat positif. Anak-anak senang dan ingin program dilanjutkan. Namun, variasi menu yang bebas berisiko jadi celah menurunkan kualitas.

"Saya sudah memberikan masukan agar menu makanan MBG ini di Majalengka coba diseragamkan. Satu minggu ini apa, minggu depan apa. Biar kita mudah memonitor dan mereka berkompetisi dalam hal kualitas," ujar Bupati.

Dengan menu seragam, pengawas dan masyarakat bisa langsung membandingkan hasil makanan antar sekolah. Jika ada yang kualitasnya jomplang, akan cepat terdeteksi.

Bupati Eman menekankan pengelola SPPG tak boleh profit oriented. Sebab biaya operasional seperti sewa tempat dan kendaraan sudah diakomodasi dalam regulasi.

"Jangan hanya mengejar keuntungan, karena keuntungan itu sudah dikasih berdasarkan aturan yang ada untuk sewa mobil, sewa tempat. Artinya kita enggak usah lagi berorientasi mengejar keuntungan di pengolahan makanannya, tetapi harus ada rasa memiliki dan rasa bangga menjadi mitra pemerintah," tegasnya.

Ia mengkhawatirkan adanya oknum yang memotong anggaran atau jatah makanan demi untung lebih besar.

"Bayangkan, anak-anak itu kan orang yang belum punya dosa. Kalau jatahnya dipotong oleh mitra yang tidak punya hati dan keikhlasan, kasihan. Harus punya rasa takut itu. Kalau ini dibangun secara ikhlas dan punya tanggung jawab, bayangkan kebahagiaan yang muncul bisa memberi makan ribuan anak tiap hari," tambahnya.

Pemkab Majalengka akan mempercepat penyaluran sekaligus memperketat pemantauan. Tim pengawas akan memonitor tiap sekolah secara berkala untuk memastikan makanan sesuai standar gizi.

Kebijakan penyeragaman menu ini mendapat tanggapan positif dari para guru di SMPN 1 Leuwimunding menilai menu seragam membuat kontrol lebih terukur.

"Guru dan komite sekolah dapat dengan mudah mencocokkan apakah makanan yang dikirimkan oleh pengelola SPPG sudah sesuai dengan standar yang disepakati secara daerah atau belum," ungkapnya.

Dengan menu seragam dan pengawasan ketat, Pemkab Majalengka berharap program MBG benar-benar tepat sasaran: anak kenyang, gizi terjaga, dan pengelola bekerja dengan hati. (Kom/Uj.Ar) 

Editor: Adi M

Resmikan Gedung Baru SMPN 1 Leuwimunding dari Banpres, Bupati Majalengka Tekankan Perawatan Sekolah Sebaik Mungkin


MAJALENGKA, fokusdialog.com – Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M, didampingi Kepala Dinas Pendidikan H. Muhamad Umar Ma'ruf, meresmikan penggunaan gedung baru SMPN 1 Leuwimunding. Hadir pula Kepala SMPN 1 Leuwimunding Warya, M.Pd., komite sekolah, dan warga. Senin 13 Juli 2026 pekan lalu.

Bangunan ini menjadi sekolah pertama di Majalengka yang mendapat alokasi langsung dari program Bantuan Presiden Banpres Tahun Anggaran 2026. Total anggaran Rp1,1 miliar untuk 7 ruang kelas baru.

Proyek dikerjakan swakelola melibatkan kepala sekolah, komite, dan masyarakat. Hasilnya dinilai kokoh, aman, dan berkualitas baik untuk kegiatan belajar mengajar.

Banpres tahap awal ini menyasar empat sekolah: dua SD dan dua SMP. Selain Leuwimunding, tiga sekolah lain berada di Kecamatan Maja, Dawuan, dan Majalengka Kota.

Bupati menyampaikan rasa syukur atas dukungan pusat terhadap peningkatan sarpras pendidikan daerah. Ini kali pertama Majalengka mendapat perhatian langsung Presiden lewat Banpres untuk renovasi sekolah.

"Syukur alhamdulillah, pada hari ini saya bisa hadir langsung untuk meresmikan penggunaan bangunan sekolah baru dari program Bapak Presiden melalui Bantuan Presiden. Dan ini merupakan kali pertama, atau yang paling awal, kita mendapatkan perhatian dari Bapak Presiden melalui program Banpres untuk melakukan renovasi di SMPN 1 Leuwimunding," ujar Bupati.

Bupati memuji model swakelola yang melibatkan ekosistem sekolah dan warga. "Berdasarkan laporan dari teman-teman, program ini pelaksanaannya dilaksanakan secara swakelola, bekerja sama antara Kepala Sekolah, masyarakat, dan juga Komite Sekolah. Kita bisa buktikan bersama dan melihat bangunannya, alhamdulillah hasilnya cukup bagus," tambahnya.

Bupati menitipkan pesan agar gedung harus dirawat konsisten.  "Saya titipkan pesan, karena bagaimanapun seperti yang saya sampaikan tadi, membangun itu lebih mudah. Yang lebih susah dan membutuhkan konsistensi waktu adalah merawatnya. Oleh karena itu, saya titip kepada Kepala Sekolah dan Ketua Komite agar bangunan ini betul-betul dirawat demi anak-anak kita. Kalau ada kotor sedikit segera diperbaiki, jika ada ramat—atau sarang laba-laba—tolong segera dibersihkan," tegasnya.

Menurut Bupati, sekolah bersih dan terawat akan mendongkrak motivasi belajar siswa dan semangat guru. Sebaliknya, sekolah kotor mengganggu kenyamanan KBM.Instruksi Disiplin Guru

Bupati meminta Dinas Pendidikan memantau kehadiran dan kedisiplinan guru sejak hari pertama gedung dipakai. Sanksi mulai Surat Peringatan SP hingga sanksi berat tetap berlaku bagi yang melanggar.

Kadisdik H. Muhamad Umar Ma'ruf menambahkan, Banpres tahap awal menyasar 4 sekolah dengan anggaran berbeda. Untuk SMPN 1 Leuwimunding Rp1,1 miliar untuk 7 lokal.

Dengan gedung baru yang kokoh dan pesan perawatan yang kuat, Pemkab Majalengka berharap SMPN 1 Leuwimunding jadi contoh sekolah yang tak hanya bagus dibangun, tapi juga terawat untuk generasi mendatang.

Kepala SMPN 1 Leuwimunding Warya, M.Pd dalam kesempatan tersebut menyampaikan terima kasih.

"Kami atas nama seluruh warga sekolah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan ini. Bangunan yang representatif ini sudah lama dinantikan demi kenyamanan anak didik kami. Kami berjanji akan merawat sarana prasarana ini sebaik mungkin sesuai amanat yang disampaikan, serta menjadikannya pemacu dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMPN 1 Leuwimunding," tegasnya.

Acara peresmian ditutup dengan gunting pita dan peninjauan langsung bangunan baru oleh Bupati Majalengka didampingi Kadisdik, Kepala SMPN 1 Leuwimunding, Komite sekolah beserta para guru. (Kom/Uj. Ar) 

Editor: Adi M

Minggu, 05 Juli 2026

Wakil Wali Kota Banjar Lepas Karnaval Sedekah Bumi dan Hari Jadi Desa Waringinsari ke-48


Banjar,
  fokus dialog.com – Wakil Wali Kota Banjar, H. Supriana, secara resmi melepas Karnaval Sedekah Bumi dalam rangka memperingati Hari Jadi Desa Waringinsari ke-48. Kamis, (02/07 2026). 


Karnaval dilepas dari Halaman Kantor Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, dan diikuti ratusan peserta dari RT/RW, lembaga desa, sekolah, karang taruna, UMKM, hingga kelompok tani. Rute karnaval menyusuri jalan utama desa dengan aneka pertunjukan seni, mobil hias hasil bumi, dan pakaian adat.


Kegiatan Sedekah Bumi ini diisi dengan doa bersama, kirab gunungan hasil pertanian, dan pembagian hasil bumi. Tradisi ini menjadi wujud syukur masyarakat atas melimpahnya panen dan keselamatan desa selama 48 tahun.


Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Banjar mengapresiasi kekompakan warga Waringinsari. “Sedekah Bumi bukan hanya tradisi, tapi juga ruang gotong royong dan pelestarian budaya. Saya bangga, di usia 48 tahun Desa Waringinsari terus tumbuh, UMKM-nya naik, dan infrastrukturnya semakin baik,” ujarnya.


Ia juga berpesan agar semangat HUT Desa ke-48 ini diisi dengan inovasi. “Jadikan momentum ini untuk memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan desa mandiri dan menjaga lingkungan. Pemerintah Kota Banjar siap mendukung,” tambahnya.


Masih di tempat yang sama, Kepala Desa Waringinsari, Kuswanti, menyampaikan terima kasih atas kehadiran Wakil Wali Kota. *“Usia 48 tahun ini kami jadikan titik tolak. Program prioritas kami: jalan usaha tani, lumbung pangan desa, dan digitalisasi layanan,” katanya.


Rangkaian HUT ke-48 Desa Waringinsari juga diisi lomba tumpeng, festival kuliner lokal, santunan anak yatim, dan jalan sehat berhadiah. Puncak acara ditutup dengan Tablig Akbar di halaman Desa pada malam hari. (uus,is)

Selasa, 30 Juni 2026

Libatkan Warga Setiap Hari, Desa Lajer Rampungkan Rabat Beton 382 Meter dari Dana Desa


Indramayu, fokusdialog.com - Pemerintah Desa Lajer, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu Jawa Barat, baru-baru ini telah merampungkan pembangunan rabat beton jalan lingkungan Tambak Limpas pada Sabtu (27/6/2026).


Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Desa Lajer, Saripudin, yang mewakili Kuwu Lajer Sujono saat meninjau lokasi di hari terakhir pengerjaan.


"Alhamdulillah, hari ini terakhir pengerjaan dan diharapkan selesai dengan baik tanpa ada halangan apapun," ujarnya.


Ia menjelaskan, pembangunan jalan lingkungan ini berukuran panjang 382 meter, lebar 2 meter, dan ketebalan 12 centimeter. Anggarannya bersumber dari Dana Desa 2026 sebesar Rp193.600.000. Pengerjaan dilakukan secara swakelola dengan melibatkan 25 sampai 30 warga Desa Lajer setiap harinya.


Saripudin menegaskan, seluruh program di Desa Lajer sudah melalui mekanisme sesuai aturan pusat dan Pemda Indramayu.


"Semua kegiatan dari perencanaan hingga pelaksanaan telah dirapatkan melalui Musrenbang maupun Musdes bersama aparatur desa, BPD, RT, RW, tokoh masyarakat dan warga Desa Lajer," jelasnya.


Selain rabat beton, Dana Desa 2026 Desa Lajer juga diprioritaskan untuk BLT Jompo Rp36.000.000, PKTD Rp203.600.000, pengerasan selokan Rp10.000.000, Sunting Rp85.200.000, PMT Rp14.400.000, honor kader Rp54.000.000, honor PAUD dan Madrasah Rp16.800.000, Desa Adaptif Iklim Rp13.500.000, fogging Rp13.500.000, desa digital Rp10.000.000, ketahanan pangan Rp14.000.000, precast jalan usaha tani Rp14.000.000, dan lainnya.


Sementara menurut Ketua RT 03, Iswandi, saat ditemui awak media dilokasi proyek menyebut warga sangat senang.


"Sudah lama warga mendambakan pengecoran ini. Dulu pernah direhab tapi rusak lagi. Alhamdulillah sekarang permanen, mobilitas lancar, hasil pertanian meningkat, perekonomian pun naik. Kami ucapkan terima kasih kepada Kuwu Sujono dan perangkat desa," katanya.


Hal senada juga diungkapkan warga RT 01 RW 01, Caniwan, yang sangat bersyukur dan berterimakasih kepada seluruh jajaran aparatur desa Lajer atas terealisasinya pengecoran jalan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya.


"Saya berterima kasih kepada aparat desa yang merealisasikan program sesuai hasil Musdes. Ini berkat support aparat desa," terangnya.


Kuwu Sujono melalui Sekdes Saripudin berpesan agar jalan yang sudah dibeton dijaga bersama.


"Mari kita jaga bersama hasil pembangunan ini, karena semua program di Desa Lajer atas dasar keinginan masyarakat. Kami akan terus berupaya memberikan yang terbaik untuk kemajuan dan kesejahteraan warga Desa Lajer," pungkasnya.


Penulis: Jaya 

Editor: Adi M

Sabtu, 27 Juni 2026

100% Lulus, UPTD SDN 2 Bangkaloa Indramayu Lepas 22 Siswa Kelas VI, Kusniah,S.Pd.SD Minta Siswa Yang Lulus Lebih Selektif Bergaul, Hindari Hal Negatif!

Kepala UPTD SDN 2 Bangkaloa, Kusniah S.Pd.SD didampingi para Guru kelas foto bareng siswa-siswi

Indramayu, fokusdialog.com - UPTD SDN 2 Bangkaloa, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu Jawa Barat menggelar acara pelepasan siswa-siswi kelas VI di halaman sekolah, Sabtu (27/6/2026) siang.


Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala sekolah UPTD SDN 2 Bangkaloa, Kusniah,S.Pd.SD yang sekaligus menyampaikan rasa syukur atas kelulusan seluruh siswa kelas VI tahun ini.

Turut hadir Ketua komite UPTD SDN 2 Bangkaloa Jubaedah S.Pd, Bendahara komite Indah Komalasari, Babinkamtibmas Desa Bangkaloa Polsek Widasari, AIPDA Azis SE, para guru, orang tua siswa, para tamu undangan dan seluruh siswa-siswi kelas I – VI.  


“Alhamdulillah untuk tahun sekarang semuanya lulus. Antusias para wali murid, guru, Dewan Sekolah, dan rekan-rekan kerja sangat baik,” ujarnya saat ditemui media.


Tahun ini sebanyak 22 siswa kelas VI dinyatakan lulus, terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 6 siswi perempuan. Total peserta didik UPTD SDN 2 Bangkaloa dari kelas 1 sampai kelas 6 berjumlah 141 siswa.


Kusniah,S.Pd.SD berharap para lulusan menjadi anak yang lebih baik, berakhlak, dan beradab.


“Untuk itu kami menyarankan agar anak-anak yang sudah lulus tidak terlepas dari pengawasan orang tua dan menghindari pergaulan bebas,” pesannya.


Ia menjelaskan kegiatan pelepasan ini atas dasar insiatif orang tua wali murid dan mendapat dukungan penuh dari Dewan Sekolah serta Komite Sekolah. Pihak sekolah dan para guru hanya memfasilitasi serta menyetujui setelah sebelumnya dilakukan rapat bersama orang tua wali murid, komite sekolah, dan bendahara komite.


Ketua Komite UPTD SDN 2 Bangkaloa, Jubaedah S.Pd, saat dimintai keterangan mengatakan bahwa kegiatan ini adalah keinginan semua orang tua wali siswa sebagai bentuk rasa syukur atas kenaikan dan kelulusan putra-putrinya.


“Kegiatan ini juga, murni inisiatif dari para orang tua siswa dari mulai kelas I hingga kelas VI. Mereka juga saat rapat dengan kami menyatakan sepakat dan sukarela menyumbang dana Rp.40 ribu per siswa, agar acara kenaikan dan pelepasan ini dapat terselenggara. Dana yang terkumpul tersebut digunakan untuk sewa panggung, tenda, sound system serta snack untuk semua siswa. Semuanya sudah kami koordinasikan dengan para orang tua siswa,” terangnya.


Jubaedah S.Pd menambahkan, dari awal penyusunan rencana kegiatan kenaikan kelas 1-kelas 5 dan pelepasan siswa kelas 6 hingga rapat Kepala sekolah dan guru tidak dilibatkan. Meski begitu, pihak sekolah tetap memberikan fasilitas tempat untuk kegiatan tersebut.


“Y, pihak sekolah memang tidak dilibatkan. Jadi tidak tahu menahu, hanya memberikan fasilitas tempat saja. Kegiatan ini terwujud, berkat dukungan dan dorongan dari para orang tua siswa yang mempercayakan pelaksaaannya kepada komite,” imbuhnya.


Indah Komalasari selaku Bendahara komite sekolah juga menyampaikan, tahun sebelumnya memang tidak ada kegiatan seperti ini. Namun karena para orang tua siswa yang mengingikan adanya kegiatan ini, maka kegiatan ini pun dilaksanakan.


Menurutnya, untuk acara kenaikan dan perpisahan tiap siswa Rp. 40 ribu. Sedangkan biaya Rp.100 ribu itu untuk make up dan aksesoris bagi siswa yang ingin tampil menunjukan bakat dan kreativitasnya diatas panggung.


“Untuk acara kenaikan dan perpisahan itu hanya Rp.40 ribu. Kalau yang Rp. 100 ribu itu, khusus bagi siswa yang ikut nari serta ingin di make up ketukang rias, itupun kita tidak memaksa. Jadi kalau ada yang mau make up sendiri ya silahkan, tapi kalua mau di make up ketukang rias ya siswa harus bayar sendiri,” tuturnya.


Sementara tanggapan dari orang tua siswa kelas 6, Cucu Cuerni, kepada awak media mengaku sangat bangga terhadap UPTD SDN 2 Bangkaloa dan mengapresiasi kinerja para guru dalam mendidik dan membekali siswa-siswinya dengan ilmu termasuk terhadap anaknya yang duduk di kelas 6 dan lulus dengan nilai sempurna sehingga menjadi modal berharga saat melangkah kejenjang pendidikan selanjutnya.


Hal senada juga disampaikan, Rismiana Ranti selaku orang tua siswa kelas 3. Ia menyebut kegiatan ini dinilai sangat baik dan mengaku senang dapat hadir mendampingi anaknya yang duduk dikelas 3 naik ke kelas 4.


“Senang bisa hadir dan mendampingi anak di acara ini. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada para guru di sekolah ini yang telah mendidik anak saya dengan baik. Semoga kedepan sekolah ini lebih maju, serta kegiatan ekstrakuliluer lebih ditingkatkan lagi,” ucapnya.


Tika dan Kailah yang merupakan siswi kelas 6 disela-sela kegiatan mengutarakan rasa bangga dan bahagia bisa turut serta memeriahkan kegiatan kenaikan dan kelulusan bersama teman-teman sekelas maupun adik kelasnya.


“Terimakasih atas jasa Bapak dan Ibu guru yang telah mendidik serta membina kami untuk menjadi generasi penerus yang tangguh, cerdas, disiplin dan berkepribadian. Bapak dan Ibu Guru, mohon doakan kami agar di jenjang pendidikan selanjutnya dapat meraih prestasi gemilang,” harap Tika dan Kailah.


Masih dilokasi yang sama petugas dari Polsek Widasari, AIPDA. Azis, SE selaku Babinkamtibmas Desa Bangkaloa yang kebetulan hadir memenuhi undangan pihak sekolah, menyatakan bahwa kegiatan yang dilaksanakan oleh SDN 2 Bangkaloa memiliki makna mendalam bagi para guru, orang tua wali murid maupun para siswa itu sendiri.


“Pentas seni dalam kegiatan pelepasan ini dapat menambah kreativitas siswa. Hal positif lainnya dari kegiatan ini, dapat dijadikan sebagai pemersatu dan mempererat hubungan baik antar warga Bangkaloa. Alhamduliilah sejak awal sampai dipenghujung acara, semua berjalan lancar aman dan kondusif,” pungkasnya kepada awak media ini.


Acara syukuran kenaikan kelas dan pelepasan siswa di UPTD SDN 2 Bangkaloa berlangsung meriah dengan dibalut serangkaian pagelaran pentas seni dan kreativitas oleh siswa dan siswi. Suasana penuh keceriaan dan kegembiraan juga nampak terpancar dari raut wajah seluruh siswa-siswi dari mulai kelas 1 hingga kelas 6, para guru, komite, orang tua siswa serta para tamu undangan lainnya.


Penulis: Jaya

Kamis, 25 Juni 2026

Pelepasan Siswa Kelas VI UPTD SDN 1 Kalimati Berlangsung Meriah Diisi Doa Bersama, Pentas Seni, dan Tradisi Tenongan

Kepala sekolah Warnita S.Pd MM (tengah) didampingi para guru, 
Ketua komite beserta siswa kelas VI usai acara pelepasan/perpisahan. foto dok Jaya


Indramayu, fokusdialog.com. - UPTD SDN 1 Kalimati, Blok Prupugan, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu menggelar kegiatan pelepasan siswa kelas VI selama dua hari, Rabu-Kamis (24-25/6/2026), di halaman sekolah. Meski sederhana namun penuh makna yang berlangsung lancar dan meriah.  

Kepala SDN 1 Kalimati, Warnita S.Pd.,MM, mengatakan kegiatan ini murni keinginan dari orang tua wali murid yang direalisasikan bersama Komite Sekolah.


“Awalnya rencana pelaksanaan sudah dirapatkan antara komite dengan semua orang tua siswa dan dihadiri para guru. Dananya murni sumbangsih orang tua siswa. Kami pihak sekolah hanya memfasilitasi tempat, supaya acara berjalan lancar sesuai keinginan siswa dan orang tuanya masing-masing,” ujarnya, kepada wartawan, Kamis (25/6/2026) pagi.


Menurutnya, Kegiatan ini diusulkan oleh seluruh orang tua wali siswa agar acara ini dapat digelar sebagai bentuk rasa syukur atas kelulusan putra-putrinya setelah 6 tahun mengenyam pendidikan di SDN 1 Kalimati.


“Alhamdulillah, orang tua siswa dan masyarakat selalu mendukung setiap kegiatan sekolah. Yang penting setiap program dilaksanakan dengan benar dan transparan,” ungkapnya.


Ia menjelaskan bahwa pada sesi pertama pada Rabu (24/6/2026) diisi doa bersama dihadiri oleh para guru, komite, seluruh siswa beserta orang tuanya untuk keberkahan seluruh warga sekolah, dilanjutkan pentas kreasi seni dan keterampilan siswa kelas VI yang menuai tepuk tangan hadirin. Sedangkan pada sesi kedua atau puncak acara, Kamis (25/6/2026), digelar pengajian yang dipimpin oleh K.H. Amani Lutfi pengasuh Pondok Pesantren Nahdotul Mubtadiin dari Pekandangan Indramayu. Kegiatan ini sesuai program sekolah yang mengutamakan pendidikan formal dan keagamaan.

Kepala sekolah, Warnita S.Pd.,MM didampingi K.H. Amani Lutfi, Ketua Komite Ustadz Rosita,
 Guru dan seluruh siswa kelas VI yang lulus 100 persen usai acara pengajian. foto dok Jaya.


“Pengajian ini digelar, selain untuk memperdalam pengetahuan agama juga memperkuat iman dan taqwa siswa-siswi kepada Allah SWT,” jelas Warnita.

Acara juga dimeriahkan tradisi Tenongan, adat masyarakat Blok Prupugan Kecamatan Jatibarang Indramayu sebagai wujud syukur atas kelulusan.


“Tradisi tenongan ini warisan leluhur yang harus dilestarikan. Dan tidak hanya pada kegiatan kelulusan saja, namun juga tidak pernah lepas dari kegiatan besar masyarakat di sini seperti sedekah bumi, mapag Sri, khaul hari jadi desa dan lainnya,” tambahnya.


Komite UPTD SDN 1 Kalimati, Ustadz Rosita sekaligus tokoh masyarakat Blok Prupugan, Desa Kalimati saat dimintai keterangan memaparkan bahwasannya kegiatan ini sangat baik sekali dan sangat bagus. Dan yang terpenting sangat diterima dengan baik oleh orang tua siswa dan masyarakat Desa Kalimati.


Ketika ditanya wartawan terkait kegiatan ini atas ide siapa dan apakah ada pungutan? 


Ustadz Rosita dengan tegas mengatakan bahwa kegiatan ini adalah keinginan semua Orang tua siswa sehingga dana sumbangsih sebesar Rp.85 ribu diserahkan oleh tiap orang tua wali siswa dari mulai kelas I - VI secara sukarela untuk kegiatan pelepasan/perpisahan ini. 


"Dana sebesar Rp. 85 ribu itu hasil kesepakatan semua Orang Tua Siswa saat rapat dengan kami Komite sekolah, dihadiri Kepala sekolah dan juga para guru UPTD SDN 1 Kalimati. Ini murni inisiatif dari seluruh orang tua siswa, jadi tidak ada paksaan dari pihak manapun," terangnya. 


Ia juga berharap, semoga UPTD SDN 1 Kalimati ini lebih maju. Dan untuk acara pelepasan siswa kelas VI ini, kedepanya lebih meriah lagi," harapnya.


Sementara itu tanggapan dari Pengawas Bina Kecamatan Jatibarang, Noer Laila Jamilah S.Pd, menilai kegiatan ini positif karena merupakan kolaborasi orang tua siswa dan komite.


“Kedepannya, saya berpesan agar siswa lebih semangat meraih cita-cita. Jaga akhlak, karena akhlak lebih tinggi daripada ilmu. Jangan menambah ATS atau Anak Tidak Sekolah di Kecamatan Jatibarang,” pesannya.


Salah satu Guru SDN 1 Kalimati, Olan Hoce Apilando S.Pd, kegiatan ini mempererat silaturahmi guru dengan siswa dan orang tua wali murid. Ia berpesan agar lulusan menjaga citra baik sekolah, nama baik orang tua, dan terus giat belajar.


“Anak-anak Ku yang telah lulus, teruslah giat belajar kejarlah cita-citamu setinggi mungkin, semoga kelak kalian menjadi generasi yang unggul, cerdas, berbudi luhur, tabah dan menjadi kebanggaan orang tua serta bangsa dan negara Indonesia di mata dunia internasional,” tandasnya.


Rohmat selaku orang tua siswa menyambut baik dan mengapresiasi kinerja Kepala sekolah, Komite dan seluruh tenaga guru di UPTD SDN 1 Kalimati. Pasalnya, siswa - siswi dari mulai kelas I - VI menjadi lebih cerdas, lebih bisa menghargai waktu (disiplin), tutur bahasa lebih santun dan lebih hormat kepada orang tua dan menghargai teman sebayanya. 


"Saya sebagai orang tua siswa, mengucapkan terimakasih atas jasa ibu dan bapak guru yang telah membimbing dan mendidik putra-putri kami menjadi anak yang cerdas, patuh, sopan dan disiplin," ucapnya. 


Rohmat juga mengungkapkan bahwa kegiatan pelepasan siswa kelas VI ini murni inisiatif dari seluruh orang tua siswa. Karena ini bentuk penghargaan kami kepada sekolah atas kinerja para guru yang pantang menyerah mendidik anak-anak kami menjadi cerdas, berakhlak mulia dan berprestasi. 


Hal senada juga diungkapkan, Opik Arifin, selaku orang tua siswa mengaku bahwa kegiatan ini sangat bagus dan layak. 


"Jadi wajar kalau kita sebagai orang tua, memberikan apresiasi kepada para guru atas dedikasinya mendidik putra-putri kami dengan sangat baik sehingga putra - putri kami jadi pandai membaca, menulis, berhitung dan memahami sejarah lokal dan nasional," ungkapnya. 


Opik juga berharap, agar para guru tetap semangat dan sabar mendidik anak-anak yang masih menimba ilmu di UPTD SDN 1 Kalimati ini. 


"Untuk anak kami dan teman-temannya yang telah lulus, bisa terus belajar dan mampu meraih prestasi saat di jenjang pendidikan selanjutnya," harapnya. 


Tidak ketinggalan pula siswa kelas VI, Ajuhri dan Fajar turut manyampaikan kesan-kesannya selama menimba ilmu 6 tahun di UPTD SDN I Kalimati hingga lulus. Keduanya mewakili teman-temannya, selama belajar lebih semangat. Itu semua berkat motivasi dari para guru yang dengan penuh kesabaran dan keihklasan menempa siswa menjadi lebih cerdas, disiplin dan memiliki kepribadian yang baik, sopan dan trengginas dalam meraih prestasi.


"Terimakasih Bapak dan Ibu guru. Apa yang telah diberikan kepada kami semua selama enam tahun ini, menjadi bekal berharga kami untuk menapak ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Doa dan harapan kami untuk Bapak dan Ibu Guru selalu sehat dan terus mencetak siswa-siswa berprestasi selepas kami..Kami bangga menjadi murid Bapak dan Ibu guru," tutur keduanya dengan nada haru. 


Seperti diketahui SDN 1 Kalimati sendiri tahun ajaran 2025/2026 ini telah meluluskan 22 siswa kelas VI, terdiri 11 siswa dan 11 siswi, lulus 100 persen. Adapun jumlah total peserta didik dari kelas I sampai kelas VI sebanyak 115 siswa.


Hadir dalam kegiatan Kepala Sekolah, seluruh guru, Pengawas Bina Kecamatan Jatibarang, komite, orang tua wali murid, dan seluruh siswa kelas I sampai VI. 

 

Penulis: Jaya


EFISIENSI UNTUK SEMUA ATAU HANYA UNTUK SEBAGIAN?


"Ketika Efisiensi Menjadi Beban Sebagian, Tetapi Kemewahan Bagi Sebagian Lain" 


Kuningan, fokusdialog.com.


Pemerintah Kabupaten Kuningan saat ini terus menggaungkan narasi efisiensi anggaran. Hampir seluruh perangkat daerah merasakan langsung dampaknya. Anggaran dipangkas, perjalanan dinas dibatasi, kegiatan dikurangi, pencairan anggaran diperketat, bahkan banyak program yang terpaksa berjalan setengah hati karena keterbatasan dukungan anggaran. 


Namun di tengah semangat efisiensi tersebut, muncul pertanyaan yang mengusik rasa keadilan birokrasi dan logika publik.


Apakah efisiensi benar-benar berlaku untuk semua?


Ataukah efisiensi hanya diwajibkan kepada sebagian perangkat daerah, sementara sebagian lainnya tetap menikmati keleluasaan anggaran?


Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan.


Ketika sebagian besar OPD hanya memperoleh anggaran perjalanan dinas antara Rp50 juta hingga Rp100 juta, BPKAD justru memiliki alokasi perjalanan dinas sekitar Rp1,2 miliar. 


Ketika sebagian besar OPD harus mengubur impian melakukan studi banding, peningkatan kapasitas, atau kunjungan kerja karena keterbatasan anggaran, BPKAD justru memiliki ruang yang sangat luas untuk melaksanakan berbagai kegiatan perjalanan dinas. 


Ironisnya, banyak OPD bahkan tidak dapat merealisasikan anggaran perjalanan dinas yang sudah kecil tersebut karena pencairannya dibatasi dan dipersulit.


Akibatnya, anggaran hanya menjadi angka dalam dokumen APBD tanpa manfaat nyata bagi pelaksanaan tugas. 


Sementara itu, publik melihat adanya berbagai kegiatan perjalanan dinas yang dikemas dalam bentuk studi banding dan kunjungan kerja.


Tentu tidak ada yang salah dengan studi banding apabila memang menghasilkan inovasi, peningkatan kualitas pelayanan, dan manfaat nyata bagi masyarakat.


Namun yang menjadi persoalan adalah ketika studi banding dan perjalanan dinas tetap leluasa dilakukan oleh satu perangkat daerah, sementara perangkat daerah lainnya bahkan tidak memiliki kesempatan yang sama.


Di sinilah muncul persepsi yang berkembang di tengah ASN dan masyarakat bahwa ada perangkat daerah yang dipaksa berhemat, sementara ada perangkat daerah yang tetap dapat "berjalan-jalan" atas nama kegiatan kedinasan.


Benar atau tidaknya persepsi tersebut, pemerintah daerah wajib menjawabnya secara terbuka. Karena keadilan bukan hanya harus dilakukan, tetapi juga harus terlihat dilakukan.


Belanja Cetak Rp2,8 Miliar di Era Digital


Di tengah tuntutan digitalisasi birokrasi, BPKAD juga memperoleh alokasi belanja cetak dan penggandaan sekitar Rp2,8 miliar.


Angka ini tentu memunculkan pertanyaan besar.


Saat pemerintah mendorong penggunaan dokumen elektronik, aplikasi digital, tanda tangan elektronik, dan arsip digital, mengapa kebutuhan belanja cetak masih mencapai miliaran rupiah?


Berapa volume kebutuhan yang mendasari angka tersebut?


Apa urgensi dan manfaatnya?


Mengapa di saat OPD lain harus menghemat kebutuhan operasional paling dasar, justru terdapat ruang yang sangat besar untuk belanja cetak dan penggandaan?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk tuduhan. Justru sebaliknya.


Pertanyaan tersebut merupakan konsekuensi logis dari prinsip transparansi dan akuntabilitas yang seharusnya menjadi ruh pengelolaan keuangan daerah.


OPD Lain Menambal Atap Bocor, BPKAD Merehab Kantor


Ketimpangan yang paling mudah terlihat adalah pada alokasi pemeliharaan dan rehabilitasi gedung pada tahun 2025.


Banyak perangkat daerah tidak memperoleh alokasi pemeliharaan gedung sama sekali. Atap yang bocor ditambal seadanya. Dinding yang rusak dibiarkan. Sarana pelayanan publik mengalami penurunan kualitas karena tidak tersedia anggaran pemeliharaan. Pegawai dipaksa bekerja dalam keterbatasan. 


Namun pada saat yang sama, BPKAD justru memperoleh alokasi rehabilitasi dan penataan ruang kantor yang nilainya mencapai sekitar Rp500 juta. Anehnya yang lain refocusing, giliran untuk BPKAD mah tetap aman tidak tercoret. 


Pertanyaannya sederhana.


Apakah hanya gedung BPKAD yang membutuhkan perbaikan?


Apakah kantor-kantor perangkat daerah lain sudah sempurna?


Apakah ruang pelayanan publik yang digunakan masyarakat setiap hari tidak lebih membutuhkan perhatian dibanding penataan ruang kantor pejabat? 


Ketika OPD lain memperoleh nol rupiah untuk pemeliharaan gedung, sementara BPKAD memperoleh ratusan juta rupiah untuk rehabilitasi dan penataan ruang, maka wajar apabila muncul pertanyaan mengenai keadilan dalam penentuan prioritas anggaran. 


BPKAD: Wasit Sekaligus Pemain? 


Persoalan sebenarnya bukan terletak pada besar kecilnya anggaran. Persoalan sesungguhnya adalah posisi BPKAD itu sendiri. 


BPKAD merupakan lembaga yang memiliki fungsi strategis sebagai perancang, pengendali, pengelola, dan penjaga disiplin keuangan daerah. 


- BPKAD menentukan ritme pencairan. 


- BPKAD menentukan kebijakan pengendalian belanja. 


- BPKAD menjadi garda terdepan dalam narasi efisiensi. 


Namun ketika lembaga yang mengendalikan anggaran justru terlihat menjadi salah satu penerima keleluasaan anggaran terbesar, maka muncul persepsi yang sulit dihindari. 


BPKAD tidak lagi dipandang sekadar sebagai wasit yang mengawasi pertandingan. BPKAD dipersepsikan sebagai wasit yang ikut bermain sekaligus menentukan skor pertandingan. 


Tentu persepsi tersebut harus dibantah dengan data dan keterbukaan. Tetapi selama ketimpangan tersebut terlihat nyata di depan mata, persepsi itu akan terus hidup di ruang publik.


GU Diperketat untuk OPD, Longgar untuk Pengelola Keuangan? 


Keluhan lain yang berkembang adalah terkait mekanisme pencairan Ganti Uang (GU). Banyak perangkat daerah mengeluhkan pencairan yang semakin ketat. Bahkan terdapat kondisi di mana pencairan hanya dapat dilakukan satu kali dalam satu bulan. 


Akibatnya berbagai kegiatan operasional terhambat. Program berjalan lambat. Pelayanan publik terganggu. 


Namun pada saat yang sama berkembang persepsi bahwa kebutuhan pencairan di lingkungan pengelola keuangan relatif lebih mudah, lebih cepat, dan lebih fleksibel. 


Sekali lagi, terlepas benar atau tidaknya persepsi tersebut, pemerintah daerah wajib memberikan penjelasan terbuka agar tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan birokrasi. 


"Ngahuapan Sorangan" 


Di kalangan ASN dan masyarakat, berkembang satu istilah Sunda yang sangat menggambarkan situasi ini. 


"Ngahuapan sorangan." Istilah ini menggambarkan seseorang yang memegang sendok, mengambil nasi, menentukan porsi makanan, lalu menyuapi dirinya sendiri. 


Dalam konteks tata kelola anggaran, istilah tersebut menjadi metafora yang sangat kuat. 

- Pihak yang mengatur anggaran.

- Pihak yang menentukan prioritas.

- Pihak yang mengendalikan pencairan.

- Pihak yang menetapkan efisiensi. 


Namun pada saat yang sama juga dipersepsikan sebagai pihak yang paling menikmati keleluasaan anggaran. 

- Inilah yang melahirkan kecemburuan birokrasi.

- Inilah yang melahirkan rasa ketidakadilan. 

- Dan inilah yang pada akhirnya menggerus kepercayaan. 


Kesimpulan: Jangan Ada Anak Emas dalam APBD 

- Persoalan ini bukan sekadar soal Rp1,2 miliar perjalanan dinas.

- Bukan sekadar soal Rp2,8 miliar belanja cetak. 

- Bukan sekadar soal Rp500 juta rehabilitasi gedung. 


Persoalan utamanya adalah konsistensi kebijakan dan keadilan anggaran. Jika efisiensi memang menjadi semangat bersama, maka seluruh perangkat daerah harus merasakan perlakuan yang sama. 


Jika penghematan menjadi kewajiban, maka penghematan harus berlaku kepada semua. 


Jika pengorbanan diminta dari seluruh OPD, maka tidak boleh ada pihak yang memperoleh pengecualian. 


Jangan sampai efisiensi hanya menjadi slogan bagi yang lemah, tetapi menjadi dispensasi bagi yang kuat. 


Jangan sampai ada perangkat daerah yang menjadi anak tiri, sementara perangkat daerah lain dipersepsikan sebagai anak emas. 


Karena APBD bukan milik BPKAD.

- APBD bukan milik pejabat.

- APBD bukan milik penguasa.

- APBD adalah uang rakyat. 


Dan setiap rupiah yang dibelanjakan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat secara adil, transparan, proporsional, dan tanpa standar ganda. 


Jika tidak, maka pertanyaan yang akan terus bergema di tengah birokrasi dan masyarakat Kabupaten Kuningan adalah: 

"Mengapa harus berhemat, jika ternyata tidak semua diwajibkan berhemat?" 


Penulis: Asep Saepudin