MAJALENGKA, fokusdialog.com – Kementerian Pemuda dan Olahraga RI makin serius membangun olahraga inklusif. Buktinya, Training of Trainers ToT Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk "Berdaya" resmi digelar di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Kamis, 16 Juli 2026.
Majalengka dipilih sebagai salah satu daerah
percontohan pembudayaan olahraga disabilitas hingga ke desa. Program ini bukan
sekadar pelatihan sertifikasi, tapi strategi besar mencetak motor penggerak
olahraga disabilitas langsung dari akar rumput.
Kemenpora RI menggelar ToT Penggerak Olahraga
Disabilitas "Berdaya" selama dua hari di Majalengka. Sebanyak 120
peserta lokal digembleng menjadi pelatih, pendamping, sekaligus agen
pembudayaan olahraga bagi penyandang disabilitas. Mereka dibekali materi
olahraga adaptif, klasifikasi disabilitas, metode pelatihan adaptif, hingga
teknik identifikasi bakat sejak dini.
Kegiatan dibuka Plt. Asisten Deputi Olahraga Layanan
Khusus Kemenpora, Ahmad Arsani, di Hotel Fitra Majalengka, Kamis 16 Juli 2026.
Pelatihan menghadirkan pakar olahraga adaptif dari kalangan akademisi dan
praktisi. Peserta berasal dari 120 penggerak olahraga disabilitas se-Kabupaten
Majalengka yang punya komitmen mengawal olahraga inklusif di daerahnya.
Program "Berdaya" sendiri dirancang empat
fase. Fase I pembentukan master trainer sudah rampung April 2026, melibatkan 30
atlet elite internasional. Fase II berupa pelatihan intensif pelatih lokal,
seperti yang kini digelar di Majalengka. Selanjutnya Fase III aktualisasi ke
komunitas dan Fase IV monitoring-evaluasi.
Data Kemenpora menyebut dari 22,9 juta jiwa
penyandang disabilitas di Indonesia, baru 11,6% yang aktif berolahraga. Jumlah
pelatih pun sangat terbatas, baru 92 orang berlatar belakang National
Paralympic Committee Indonesia NPCI.
"Untuk mendongkrak partisipasi berolahraga
serta mencetak lebih banyak atlet disabilitas berprestasi, kita membutuhkan
peningkatan jumlah pelatih, pendamping, dan penggerak olahraga disabilitas yang
kompeten. Itulah yang melatarbelakangi dicetuskannya program ToT 'Berdaya'
ini," tegas Arsani.
Empat
Fase Terstruktur:
Fase I - Master Trainer:
April 2026, 30 atlet elite internasional dilatih jadi instruktur nasional.
Fase
II - Pelatihan Intensif: Melatih 120 penggerak lokal di
daerah seperti Majalengka.
Fase
III - Aktualisasi: Peserta langsung mengimplementasikan
ilmu ke komunitas disabilitas.
Fase
IV - Monev: Pengawasan, evaluasi dampak, hingga
penyusunan laporan capaian.
Materi
yang Diberikan:
Olahraga
Adaptif & Para Sport: Konsep dasar, cabang paralimpik,
sistem pembinaan.
Klasifikasi
Olahraga Disabilitas: Memahami karakteristik olahraga sesuai
jenis hambatan.
Metode
Pelatihan Adaptif: Menyusun program latihan yang ramah dan
aman bagi atlet disabilitas. Identifikasi Bakat: Teknik menemukan
potensi atlet sejak dini di kelompok disabilitas.
"Melalui program ini, Kemenpora berharap dapat
menciptakan dampak jangka panjang bagi pemenuhan hak berolahraga yang setara
bagi seluruh lapisan masyarakat," tutup Arsani.
Dengan ToT "Berdaya", Kemenpora
menargetkan lahirnya ribuan pelatih kompeten di seluruh daerah. Dimulai dari
Majalengka, gerakan olahraga inklusif diharapkan meluas ke seluruh Indonesia
dan menjadi jalan lahirnya atlet paralimpik masa depan yang mengharumkan nama
bangsa. (Kom/Uj.Ar)
Editor: Adi M


