• Jelajahi

    Cirebon (81) Kabar Daerah (109) Koran (1)
    Copyright © Fokus Dialog
    Best Viral Premium Blogger Templates

    e-koran

    Kemenpora Cetak 120 Penggerak Olahraga Disabilitas Lewat ToT "Berdaya" di Majalengka

    FOKUS DIALOG
    Jumat, 17 Juli 2026, Juli 17, 2026 WIB Last Updated 2026-07-17T14:43:02Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    MAJALENGKA, fokusdialog.com
    – Kementerian Pemuda dan Olahraga RI makin serius membangun olahraga inklusif. Buktinya, Training of Trainers ToT Penggerak Olahraga Disabilitas bertajuk "Berdaya" resmi digelar di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Kamis, 16 Juli 2026.

    Majalengka dipilih sebagai salah satu daerah percontohan pembudayaan olahraga disabilitas hingga ke desa. Program ini bukan sekadar pelatihan sertifikasi, tapi strategi besar mencetak motor penggerak olahraga disabilitas langsung dari akar rumput.

    Kemenpora RI menggelar ToT Penggerak Olahraga Disabilitas "Berdaya" selama dua hari di Majalengka. Sebanyak 120 peserta lokal digembleng menjadi pelatih, pendamping, sekaligus agen pembudayaan olahraga bagi penyandang disabilitas. Mereka dibekali materi olahraga adaptif, klasifikasi disabilitas, metode pelatihan adaptif, hingga teknik identifikasi bakat sejak dini.

    Kegiatan dibuka Plt. Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Kemenpora, Ahmad Arsani, di Hotel Fitra Majalengka, Kamis 16 Juli 2026. Pelatihan menghadirkan pakar olahraga adaptif dari kalangan akademisi dan praktisi. Peserta berasal dari 120 penggerak olahraga disabilitas se-Kabupaten Majalengka yang punya komitmen mengawal olahraga inklusif di daerahnya.

    Program "Berdaya" sendiri dirancang empat fase. Fase I pembentukan master trainer sudah rampung April 2026, melibatkan 30 atlet elite internasional. Fase II berupa pelatihan intensif pelatih lokal, seperti yang kini digelar di Majalengka. Selanjutnya Fase III aktualisasi ke komunitas dan Fase IV monitoring-evaluasi.

    Data Kemenpora menyebut dari 22,9 juta jiwa penyandang disabilitas di Indonesia, baru 11,6% yang aktif berolahraga. Jumlah pelatih pun sangat terbatas, baru 92 orang berlatar belakang National Paralympic Committee Indonesia NPCI.

    "Untuk mendongkrak partisipasi berolahraga serta mencetak lebih banyak atlet disabilitas berprestasi, kita membutuhkan peningkatan jumlah pelatih, pendamping, dan penggerak olahraga disabilitas yang kompeten. Itulah yang melatarbelakangi dicetuskannya program ToT 'Berdaya' ini," tegas Arsani.

    Empat Fase Terstruktur:

     Fase I - Master Trainer: April 2026, 30 atlet elite internasional dilatih jadi instruktur nasional. 

    Fase II - Pelatihan Intensif: Melatih 120 penggerak lokal di daerah seperti Majalengka. 

    Fase III - Aktualisasi: Peserta langsung mengimplementasikan ilmu ke komunitas disabilitas. 

    Fase IV - Monev: Pengawasan, evaluasi dampak, hingga penyusunan laporan capaian.

    Materi yang Diberikan: 

    Olahraga Adaptif & Para Sport: Konsep dasar, cabang paralimpik, sistem pembinaan. 

    Klasifikasi Olahraga Disabilitas: Memahami karakteristik olahraga sesuai jenis hambatan. 

    Metode Pelatihan Adaptif: Menyusun program latihan yang ramah dan aman bagi atlet disabilitas.  Identifikasi Bakat: Teknik menemukan potensi atlet sejak dini di kelompok disabilitas.

    "Melalui program ini, Kemenpora berharap dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi pemenuhan hak berolahraga yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat," tutup Arsani.

    Dengan ToT "Berdaya", Kemenpora menargetkan lahirnya ribuan pelatih kompeten di seluruh daerah. Dimulai dari Majalengka, gerakan olahraga inklusif diharapkan meluas ke seluruh Indonesia dan menjadi jalan lahirnya atlet paralimpik masa depan yang mengharumkan nama bangsa. (Kom/Uj.Ar) 

    Editor: Adi M

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini